
UKDW Ruang Dialog Generasi Z: Ajak Jadi Pemuda Digital yang Cerdas dan Beretika
Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda 2025, Pusat Studi Ekonomi dan Bisnis (PSEB) Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) bekerja sama dengan Perhimpunan Warga Pancasila (PWP) menyelenggarakan kegiatan Ngobrol Gayenk: “Gen Z dan AI, Cerdas tapi Tetap Hore-Hore” pada Selasa, 28 Oktober 2025 di Ruang Seminar Gedung Didaktos lantai 3, UKDW Yogyakarta.
Kegiatan ini mengusung semangat untuk mengajak generasi muda, khususnya Generasi Z, agar memaknai nilai-nilai Sumpah Pemuda dalam konteks era digital dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Diskusi berlangsung santai, namun sarat makna dan refleksi kebangsaan.
Ngobrol Gayenk menghadirkan sejumlah narasumber lintas bidang dan generasi yaitu Dr.-Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T. (Rektor UKDW), Prof. Dr. Heru Nugroho (Guru Besar Sosiologi UGM), Rangga Eka Sakti (Peneliti Litbang Kompas), Bambang Sigap Sumantri (Jurnalis Senior Kompas, PWP), dan Holly Aulia (Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII)
Dalam sambutannya, Zuhri dari PWP menekankan pentingnya memandang kehadiran teknologi digital secara kritis. “AI membawa manfaat besar, namun juga dampak yang perlu dipahami bersama. Melalui forum ini, PWP ingin mengajak masyarakat untuk mengkritisi dan memaknai kembali peran teknologi dalam kebangsaan,” ujarnya.
Rektor UKDW, Dr.-Ing. Wiyatiningsih, menyoroti pentingnya pendidikan yang mampu menyatukan akal dan hati, teknologi dan nunrani, di tengah disrupsi teknologi. Ia mengingatkan bahwa tantangan dunia pendidikan saat ini bukan hanya bagaimana beradaptasi dengan teknologi, tetapi juga bagaimana memastikan AI digunakan untuk memperkuat nilai kemanusiaan.
“Kami mengalami hal sama dengan kampus lain. Banyak profesi beralih karena digitalisasi. Maka, kami perlu terus memperbaharui kurikulum dan memperkuat jejaring dengan dunia industri. Di UKDW, kami mengembangkan program pelatihan mahasiswa yang berpijak pada nilai-nilai kedutawacanaan kami. AI bisa berjalan seiring dengan nilai kemanusiaan, bukan menggantikannya,” jelasnya.
Wiyatiningsih juga menegaskan bahwa UKDW, sebagai “miniatur Indonesia” dengan keragaman mahasiswanya, berkomitmen untuk menumbuhkan semangat kolaborasi dan kebhinekaan dalam menghadapi tantangan era digital.
Bambang Sigap Sumantri berbagi pengalaman bagaimana AI telah mengubah praktik jurnalisme di media besar. Menurutnya, AI bisa menjadi “bestie” yang memudahkan pekerjaan, tetapi juga memunculkan tantangan baru seperti delusi ilmuwan instan akibat ketergantungan berlebih.
Sementara itu, Rangga Eka Sakti dari Litbang Kompas menekankan bahwa AI juga memengaruhi industri media, baik dalam hal pemrosesan data maupun analisis dokumen. “AI membantu merapikan data dan menganalisis dokumen, tapi juga bisa mendisrupsi kebenaran. Media kini berhadapan dengan dilema etik dan kepercayaan publik,” tegasnya.
Dari perspektif sosiologis, Prof. Dr. Heru Nugroho menyebut generasi muda kini sebagai “Generasi Algoritma Digital”. Menurut Heru, generasi saat ini hidup dalam ekosistem digital yang membentuk cara berpikir berbeda dengan generasi sebelumnya. Ia mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap AI dapat mengikis kemampuan berpikir kritis.
“AI tidak bisa menggantikan refleksi dan diskusi manusia. Kita perlu membangun budaya digital yang humanistik. Dimana etika, literasi, dan empati menjadi bagian dari ekosistem teknologi,” paparnya.
Sebagai perwakilan generasi muda, Holly Aulia membagikan pengalamannya berinteraksi dengan AI dalam keseharian. AI telah memasuki ruang personal manusia, sekaligus menjadi refleksi akan kebutuhan kedekatan emosional di dunia digital.
“Bagi Gen Z, AI sudah seperti teman diskusi. Tapi penting untuk sadar bahwa AI hanya alat bantu. Jangan sampai kita berhenti berpikir. Jadikan AI sebagai sarana eksplorasi ide, bukan jalan pintas karena malas berpikir,” ungkapnya.
Diskusi yang dipandu oleh PSEB UKDW ini menghasilkan refleksi penting bahwa kecerdasan manusia harus tetap menjadi pusat dalam setiap inovasi teknologi.
“Cerdas berarti mampu berpikir dan bersikap mandiri, memanusiakan teknologi, serta menggunakan AI untuk memberi dampak positif bagi masyarakat,” tutup Prof. Heru.
Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat semangat Sumpah Pemuda dalam konteks masa kini, bahwa generasi muda tidak hanya “hore-hore” dengan teknologi, tetapi juga cerdas, kritis, dan beretika dalam menggunakannya demi kemajuan bangsa.





