
UKDW Kukuhkan Pdt. Prof. Asnath Niwa Natar sebagai Guru Besar Ilmu Teologi

Dosen Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, Pdt. Prof. Dr. Asnath Niwa Natar, M.Th., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Teologi dengan kepakaran Teologi Pastoral dan Teologi Feminis. Pengukuhan berlangsung pada Selasa, 2 Desember 2025 di Auditorium Koinonia UKDW. Dengan pengukuhan ini, Prof. Asnath menjadi guru besar aktif ke-7 di lingkungan UKDW.
Dalam orasi ilmiah berjudul “Merebut Kembali Tubuh Politik, Otoritas, dan Teologi Tubuh Perempuan”, Prof. Asnath menegaskan bahwa tubuh perempuan sejak lama menjadi ruang yang paling rentan dalam masyarakat patriarkal. Ia menjelaskan bahwa perubahan sistem kekerabatan dari matrilineal ke keluarga monogami patriarkal telah menempatkan laki-laki sebagai pusat otoritas dalam keluarga dan warisan. Kondisi ini, menurutnya, tidak hanya mengubah struktur sosial, tetapi juga membentuk pandangan budaya bahwa tubuh perempuan dapat diatur, dikendalikan, dan dimiliki.
Prof. Asnath mengungkapkan bahwa legitimasi budaya dan adat sering menyamarkan berbagai bentuk kekerasan berbasis gender. Praktik seperti kawin paksa, kawin tangkap, kekerasan dalam rumah tangga, hingga femisida kerap dipandang sebagai tradisi yang perlu dijaga. Sementara itu, perempuan dituntut untuk tetap sabar dan patuh, sedangkan kekerasan yang dilakukan laki-laki dinormalisasi sebagai tanda kejantanan atau bentuk pendidikan.
Ia juga menyoroti peran sebagian institusi keagamaan yang lebih mengedepankan keberlangsungan pernikahan daripada keselamatan tubuh perempuan. Situasi tersebut membuat perempuan kehilangan otoritas dasar atas tubuh dan kehidupannya. “Ketika perempuan tidak memiliki kuasa atas tubuhnya, ia kehilangan esensi kemanusiaannya,” tegasnya.
Dalam paparannya, Prof. Asnath mengangkat wacana politik tubuh sebagai pendekatan untuk memahami bagaimana tubuh perempuan dikonstruksi dan dipolitisasi. Keputusan perempuan atas tubuhnya, menurutnya, bukan semata persoalan pribadi, tetapi juga isu politis yang berkaitan dengan struktur sosial yang lebih luas. Karena itu, perempuan perlu merebut kembali otoritas tubuhnya untuk memulihkan martabat, keberdayaan, dan eksistensi diri sebagai manusia yang utuh.
Selain perspektif sosial dan politik, Prof. Asnath menekankan pentingnya pendekatan teologis. Melalui teologi tubuh, ia menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan setara menurut gambar dan rupa Allah, sehingga tubuh perempuan memiliki nilai spiritual yang setara dan tidak dapat direduksi menjadi objek kepemilikan atau kontrol. Pengalaman tubuh perempuan seperti menstruasi, kehamilan, melahirkan, dan menyusui, dipandang sebagai refleksi karya penciptaan dan kasih Allah. Pendekatan ini membongkar pandangan tradisional yang merendahkan tubuh perempuan sebagai kotor atau inferior. Sebaliknya, tubuh perempuan justru mengungkapkan dimensi ilahi yang kreatif, memelihara, dan penuh kasih.
Menutup orasinya, Prof. Asnath menekankan perlunya pembahasan terpadu mengenai politik tubuh, otoritas tubuh, dan teologi tubuh perempuan. Ketiga perspektif tersebut menjadi kunci untuk memahami bagaimana tubuh perempuan telah lama menjadi medan pertarungan ideologi patriarki sekaligus membuka jalan bagi pemulihan martabat dan pembebasan perempuan.
“Tubuh perempuan bukanlah objek pasif budaya atau kekuasaan. Tubuh perempuan adalah ruang subjektivitas yang memiliki nilai, hak, dan potensi pembebasan,” ujarnya.
Rektor UKDW, Dr.-Ing. Wiyatiningsih, menyampaikan apresiasi sekaligus menegaskan bahwa Prof. Asnath merupakan guru besar ketujuh yang dimiliki UKDW dan menjadi penutup capaian akademik pada tahun 2025. Ia menyatakan bahwa Prof. Asnath membawa kekhasan keilmuan di Fakultas Teologi melalui kepakaran dalam Teologi Pastoral dan Teologi Feminis. Keunikan tersebut diyakini akan memperkuat Fakultas Teologi sekaligus memperkaya UKDW dengan hadirnya guru besar baru.
“Karya Prof. Asnath berfokus pada pemberdayaan perempuan, dari posisi yang inferior menjadi lebih berdaya. Orasi ilmiah tadi mengingatkan kita tentang pentingnya perempuan memiliki otoritas atas tubuhnya. Semua ini menegaskan bahwa perempuan dan laki-laki diperlakukan secara setara dan seimbang sesuai perbedaannya,” ungkap Wiyatiningsih.
Keberhasilan Prof. Asnath diharapkan dapat menginspirasi akademisi lain di UKDW untuk semakin giat berkarya dan terus mengembangkan diri. “Kami menyampaikan selamat atas capaian ini. Kami menantikan hadirnya guru besar berikutnya, dan yang terpenting, semoga berdampak bagi masyarakat di sekitar kita,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah V, Prof. Setyabudi Indartono, menyampaikan apresiasi dan mengingatkan perguruan tinggi untuk terus mengembangkan diri melalui riset dan pengabdian kepada masyarakat. Ia menegaskan bahwa riset para guru besar menjadi ujung tombak dalam pelaksanaan Tridharma perguruan tinggi.
Ia menambahkan bahwa UKDW merupakan salah satu dari sembilan perguruan tinggi swasta di DIY yang telah meraih akreditasi Unggul. Ia berharap UKDW dapat terus menjadi contoh bagi kampus lain, dengan mempertahankan dedikasi dan prestasi luar biasa baik di tingkat nasional maupun internasional.
Prof. Setyabudi juga memberikan apresiasi kepada UKDW atas berbagai prestasi yang diraih tahun ini, antara lain dua proposal yang lolos pendanaan program penelitian; satu proposal yang lolos untuk program pengabdian kepada masyarakat; Program Doktor Teologi dan Informatika yang meraih akreditasi Unggul; serta sejumlah penghargaan dalam Anugerah Kerja Sama Diktisaintek Tingkat LLDIKTI V, yaitu juara 1 perguruan tinggi dengan laporan kerja sama terbaik, juara 2 perguruan tinggi dengan kerja sama pemerintah/LSM terbaik, dan juara harapan 1 perguruan tinggi dengan kerja sama internasional terbaik.
“Selamat dan sukses kepada Prof. Asnath yang dikukuhkan hari ini. Kami juga mengapresiasi UKDW dan berharap jumlah guru besar terus bertambah serta memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.



