
UKDW Integrasikan Empati dan Inovasi dalam Pembelajaran Desain Produk Inklusif
Belajar desain produk tidak selalu dimulai dari sketsa atau bentuk yang menarik. Di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) proses itu justru diawali dari empati, mendengarkan dan memahami pengalaman orang lain. Pendekatan ini diterapkan melalui Mata Kuliah Desain Produk Inklusif yang mengajak mahasiswa merancang produk berdasarkan kebutuhan nyata pengguna, terutama penyandang disabilitas.
Pembelajaran tersebut menjadi bagian dari program Designing Innovation in Inclusive Waste Management yang didukung oleh United Board (UB). Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga terjun langsung ke masyarakat untuk melihat persoalan pengelolaan sampah dari sudut pandang pengguna sehari-hari.
Salah satu karya yang lahir dari proses belajar ini adalah Inclusive Ecoenzyme Toolkit, alat bantu pembuatan ecoenzyme yang dirancang ramah bagi penyandang disabilitas netra. Toolkit ini terdiri atas gelas ukur inklusif, alat potong yang aman digunakan oleh tuna netra, serta penutup botol khusus (inclusive cap airlock). Karya tersebut diperkenalkan kepada publik dalam Entrepreneurial Expo 2025 yang digelar di Atrium Agape UKDW pada 12 Desember 2025.
Dalam pameran tersebut, mahasiswa tidak hanya memajang produk, tetapi juga mengajak pengunjung mencoba simulasi penggunaan alat dengan mata tertutup. Cara sederhana ini membantu pengunjung merasakan langsung tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas netra, sekaligus menunjukkan bahwa desain dapat menjadi alat untuk menciptakan akses yang lebih setara.
Dosen Pengampu Mata Kuliah Desain Produk Inklusif sekaligus Ketua Program Studi Desain Produk UKDW, Winta T. Satwikasanti, menjelaskan bahwa mahasiswa belajar menggunakan pendekatan design thinking. Mereka diajak memahami masalah dari sudut pandang pengguna, mengembangkan ide, membuat prototipe, dan mengujinya secara langsung.
“Mahasiswa belajar bahwa desain tidak bisa dibuat berdasarkan asumsi. Mereka harus memahami pengalaman pengguna secara langsung,” ujarnya.
Proses uji coba dilakukan bersama komunitas Keluarga Difabel Pinilih Sedayu. Dari interaksi tersebut, mahasiswa memperoleh banyak masukan terkait kenyamanan, keamanan, dan kemudahan penggunaan produk. Masukan ini kemudian digunakan untuk menyempurnakan desain agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Selain Inclusive Ecoenzyme Toolkit, mahasiswa juga mengembangkan berbagai ide desain lain terkait pengelolaan sampah, seperti alat pembersih lantai yang ramah pengguna kursi roda, penyapu sampah kaca untuk penyandang disabilitas netra, tempat sampah yang mudah dijangkau, serta penjepit sampah bagi pengguna dengan keterbatasan gerak tangan.
Melalui pembelajaran berbasis pengalaman ini, UKDW menunjukkan bahwa desain produk tidak hanya soal kreativitas, tetapi juga tentang kepedulian. Mahasiswa belajar melihat desain sebagai cara untuk menghadirkan solusi yang lebih inklusif, ramah lingkungan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. [drr]





