
UKDW Tegaskan Peran Strategis dalam Transformasi ICRS “Re-Born” 2026–2030


Memasuki usia dua dekade, Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) menandai babak baru transformasi kelembagaan melalui momentum bertajuk “ICRS Re-Born”. Fase ini ditandai dengan pelantikan jajaran direksi baru periode 2026–2030 yang digelar di Yogyakarta, Selasa (7/1/2026), dan dihadiri para rektor serta pejabat dari tiga perguruan tinggi pendiri, termasuk Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW).
Pelantikan dipimpin oleh Prof. Dr. Wening Udasmoro selaku perwakilan Dewan Pengawas. Dalam kesempatan tersebut, Dr. Samsul Maarif resmi dilantik sebagai Direktur ICRS, didampingi dua Associate Director, yakni Prof. Alimatul Qibtiyah, Ph.D. dan Pdt. Prof. Yahya Wijaya, Ph.D.
Dalam pidato perdananya, Dr. Samsul Maarif menegaskan bahwa transformasi “ICRS Re-Born” bukan sekadar perubahan struktur kepemimpinan, melainkan penguatan peran ICRS sebagai pusat dialog lintas iman dan lintas budaya yang relevan dengan tantangan zaman. Ia memaparkan tiga pilar utama visi kepemimpinan lima tahun ke depan: penguatan pusat ekselensi pendidikan dan riset, keberpihakan pada dampak nyata bagi komunitas akar rumput, serta peningkatan kontribusi ICRS dalam isu global seperti perdamaian, keadilan sosial, dan keberlanjutan.
“Transformasi ini adalah peneguhan komitmen ICRS untuk terus menghadirkan kajian dan praktik lintas agama yang kontekstual dan berdampak luas,” ujar Samsul.
Sebagai konsorsium yang didirikan oleh UGM, UKDW, dan UIN Sunan Kalijaga, ICRS juga mencatat capaian internasional membanggakan. Di bawah kepemimpinan sebelumnya, ICRS berhasil menembus peringkat 51–100 dunia QS World University Rankings by Subject 2025 untuk kategori Theology, Divinity, and Religious Studies.
Dalam forum tersebut, Rektor UKDW, Dr.-Ing. Wiyatiningsih, menegaskan komitmen UKDW dalam memperkuat arah strategis ICRS ke depan, khususnya pada pengembangan international branding dan penguatan kajian lintas agama yang responsif terhadap isu-isu global. Ia menekankan pentingnya fokus pada isu ekologi dan keberlanjutan sebagai ruang kolaborasi akademik yang semakin relevan secara internasional.
“ICRS perlu semakin dikenal di tingkat global agar mampu menarik lebih banyak mahasiswa internasional, sekaligus menjadi ruang kajian lintas agama yang memberi kontribusi nyata bagi persoalan ekologis dan kemanusiaan,” ungkap Wiyatiningsih.
Sementara itu, Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia mendorong agar ICRS semakin responsif terhadap isu kebencanaan dan mampu melibatkan Generasi Z dalam aktivitas akademik dan sosial. Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr. Noorhaidi menekankan pentingnya penguatan dampak kelembagaan yang seimbang bagi ketiga kampus pendiri, termasuk pengembangan skema penerimaan mahasiswa doktoral berbasis riset kolaboratif.
Menatap perjalanan menuju usia 25 tahun, anggota Dewan Pengawas Prof. Heddy Shri Ahimsa-Putra mengusulkan penyusunan buku sejarah ICRS sebagai refleksi perjalanan sekaligus fondasi intelektual pengembangan ke depan.
Transformasi “ICRS Re-Born” menjadi momentum penting bagi konsorsium ini untuk terus beradaptasi dan memperluas dampak. Bagi UKDW, keterlibatan aktif dalam kepemimpinan dan arah strategis ICRS menegaskan komitmen kampus dalam membangun dialog lintas iman yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan di tingkat nasional maupun global. [mpk]



