
PBI UKDW Soroti Peran AI dalam Masa Depan Penilaian Bahasa

Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) menyelenggarakan seminar bertajuk “AI dan Masa Depan Penilaian Bahasa: Peluang, Tantangan, dan Contoh Praktis” pada Jumat, 10 April 2026 di Ruang Seminar Harun, Gedung Hagios Lantai 3. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen UKDW dalam merespons perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin memengaruhi dunia pendidikan.
Seminar ini dimoderatori oleh Dr. Adaninggar Septi Subekti dan menghadirkan Dr. Farah Akbar dari Moray House School of Education and Sport, University of Edinburgh, sebagai pembicara utama. Dalam pemaparannya, Dr. Farah mengulas bagaimana AI telah mengubah cara mahasiswa menyelesaikan tugas serta menantang metode penilaian yang selama ini digunakan oleh pendidik.
Dr. Farah menjelaskan bahwa AI generatif seperti GPT dan Gemini mampu menghasilkan teks yang terstruktur dan meyakinkan, namun tidak melalui proses pemahaman seperti manusia. Hal ini menimbulkan tantangan baru dalam menilai kemampuan bahasa mahasiswa.
“AI bisa menghasilkan teks yang sangat rapi dan meyakinkan, tetapi itu tidak berarti AI benar-benar memahami apa yang ditulisnya,” jelas Dr. Farah.
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa kehadiran AI memunculkan ketidakpastian dalam proses evaluasi. Pendidik, menurutnya, sering kali hanya melihat hasil akhir tanpa mengetahui proses berpikir di baliknya. “Guru melihat hasilnya, tetapi mereka tidak melihat pemikiran di baliknya,” ujarnya.
Melalui sesi interaktif, peserta diajak untuk membedakan antara teks yang dihasilkan AI dan tulisan manusia. Aktivitas ini menunjukkan bahwa hasil AI kerap sulit dibedakan, meskipun belum tentu mencerminkan kedalaman pemahaman.
Menanggapi kondisi tersebut, Dr. Farah mendorong pendidik untuk mengalihkan fokus dari deteksi penggunaan AI ke perancangan ulang metode penilaian. Ia menekankan pentingnya menilai proses berpikir mahasiswa, bukan sekadar hasil akhir.
“Seringkali kita menilai hasilnya, bukan pemikirannya. Kita menilai apa yang dihasilkan, bukan bagaimana hal itu dihasilkan,” tegasnya.
Sebagai solusi, ia menawarkan pendekatan penilaian yang lebih menekankan pada kualitas analisis, kekuatan argumen, serta kemampuan mahasiswa dalam menjelaskan dan mempertanggungjawabkan ide. Pendekatan ini dinilai lebih relevan untuk mengukur kompetensi di era AI.
Seminar ini ditutup dengan refleksi mengenai pentingnya merancang penilaian yang mampu mengungkap proses berpikir mahasiswa. Pertanyaan kunci seperti apa yang perlu diputuskan, dijelaskan, dan dibuktikan oleh mahasiswa menjadi landasan dalam merancang evaluasi yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Melalui kegiatan ini, UKDW menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan diskusi akademik yang relevan serta mendorong inovasi dalam praktik pembelajaran di era digital. [PBI/Valentina]



