
Imlek di UKDW: Hati yang Diperbarui, Iman yang Diteguhkan
Tahun Baru Imlek bukan hanya tentang perayaan dan kebersamaan, tetapi juga momentum untuk memperbarui hati dan iman. Karena itu, dalam semangat tersebut, Lembaga Pelayanan Kerohanian, Konseling, dan Spiritualitas Kampus (LPKKSK) Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) menggelar Morning Prayer bertema “Beriman di Dunia yang Rapuh” pada Senin, 23 Februari 2026 di Kapel Duta Wacana.
LPKKSK menghadirkan nuansa Imlek sebagai ungkapan syukur. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ajakan bagi sivitas akademika untuk memulai tahun dengan fondasi rohani yang kokoh.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Singgih Santoso, M.M., Ketua Program Studi Magister Manajemen Fakultas Bisnis UKDW, menyampaikan firman Tuhan dari Injil Lukas 6:46–49. Ia mengajak seluruh peserta untuk tidak hanya mendengar, melainkan juga melakukan firman.
Dalam perikop itu, Tuhan Yesus menegaskan bahwa seruan “Tuhan, Tuhan” tidak berarti tanpa ketaatan. Sebaliknya, ketaatan menunjukkan kesungguhan iman seseorang. Ia menggambarkan orang yang mendengar dan melakukan firman seperti seseorang yang menggali dalam-dalam lalu meletakkan dasar rumahnya di atas batu. Ketika banjir datang, rumah itu tetap berdiri kokoh. Namun, orang yang hanya mendengar tanpa melakukan firman membangun rumah tanpa dasar yang kuat, sehingga mudah runtuh saat badai menerpa.
Lebih lanjut, Dr. Singgih mengajak sivitas akademika UKDW bertanya pada diri sendiri: kita termasuk jenis rumah yang mana? Apakah kita membangun iman dengan sungguh-sungguh, atau sekadar menjalani rutinitas rohani?
Ia mengingatkan bahwa musibah dan tantangan hidup pasti datang untuk menguji fondasi setiap orang. Di satu sisi, kita hidup di dunia yang rapuh, tidak stabil, dan penuh ketidakpastian. Di sisi lain, Tuhan menyediakan dasar yang kokoh bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Dengan demikian, iman kepada Kristus menjadi penopang utama di tengah berbagai guncangan kehidupan.
Kasih Tuhan menuntut respons yang nyata. Oleh sebab itu, setiap orang percaya perlu menggali firman Tuhan lebih dalam, memahaminya dengan benar, lalu menghidupinya dalam keseharian. Tidak hanya itu, umat percaya juga terpanggil untuk memberitakan Injil dengan setia dan bertanggung jawab.
Ibadah tidak boleh berhenti pada ritual atau seremonial belaka. Jika iman hanya menjadi rutinitas tanpa ketaatan, maka fondasi hidup akan melemah. Akibatnya, ketika “banjir” persoalan datang, kehidupan mudah goyah. Sebaliknya, ketaatan yang konsisten akan membentuk iman yang tahan uji.
Melalui Morning Prayer ini, LPKKSK UKDW mengajak seluruh sivitas akademika mengawali minggu dengan doa dan firman Tuhan. Pada akhirnya, Imlek di UKDW tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga ruang refleksi rohani. Dengan hati yang diperbarui dan iman yang diteguhkan, sivitas akademika diajak melangkah bersama membangun hidup di atas dasar yang kuat. [mpk]
Tag:Imlek, LPKKSK, Morning Prayer, ukdw







