
Jelajah Kolaboraya: Komitmen Ciptakan Lingkungan yang Inklusif & Kolaboratif


Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta menjadi tuan rumah penyelenggaraan Jelajah Kolaboraya yang diadakan oleh Roemah Inspirit (Roemi) bersama Arsitek Komunitas (Arkom) Indonesia pada hari Sabtu, 17 Mei 2025 di Atrium Gedung Didaktos UKDW.
Jelajah Kolaboraya 2025, dengan tajuk “Pendekatan Ekosistem: Sebuah Peluang Membangun Gerakan Masyarakat Sipil yang Tangguh”, merupakan bagian dari perjalanan menuju Pasar Kolaboraya 2025. Sebuah even tahunan dari Kolaborasi Raya (Kolaboraya) yang bertujuan menjadi ruang bagi para kreator perubahan sosial lintas tema dan sektor untuk berinteraksi, berkoneksi, membangun kolaborasi raya, serta menciptakan inovasi sosial yang besar, berkelanjutan, dan berdampak. Kegiatan ini adalah respons terhadap berbagai krisis global yang kita hadapi seperti krisis iklim, pangan, air, energi, dan demokrasi.
Jelajah Kolaboraya dibuka dengan penandatanganan MoU antara UKDW dengan Arkom Indonesia. Kerja sama ini merupakan komitmen UKDW untuk menciptakan mahasiswa yang mampu bergerak dan peduli dengan isu-isu sosial yang ada di sekitar. UKDW akan juga terus menciptakan lingkungan yang inklusif dengan terus berusaha memfasilitasi berbagai kebutuhan dari seluruh bagian masyarakat.
Acara dilanjutkan dengan diskusi pemantik tentang “Membangun Hub Ekosistem Kota untuk Semua”. Diskusi dibawakan oleh Budhita Kusmadi bersama dengan Rektor UKDW Dr. -Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T. (Rektor UKDW) dan Yuli Kusworo, S.T., M.Sc. (Direktur ARKOM). Pada diskusi ini dibahas tentang konsep “hub ekosistem kota” dari masing-masing prespektif narasumber dan bagaimana peran dari institusi pendidikan maupun komunitas. Bu Ning menyampaikan bahwa sebagai suatu institusi pendidikan, UKDW harus mampu ikut serta dalam mewujudkan suatu ekosistem yang inklusif dan kolaboratif. Langkah ini harus dijalani oleh seluruh komponen dari institusi. UKDW selalu berusaha untuk menciptakan generasi yang peka terhadap isu-isu disekitarnya dan mampu melakukan perubahan.
Sedangkan Pak Yuli menjelaskan tentang pengertian konsep dari Hub Ekosistem Kota untuk semua. Cara melihat suatu masalah melalui pendekatan ekosistem. Pak Yuli menjelaskah bahwa pendekatan ekosistem adalah suatu prespektif yang melihat bahwa gerakan masyarakat merupakan sistem yang saling terhubung dan kolaboratif. Sebuah ekosistem harus mampu untuk berbagi energi, materi, dan informasi kepada sesamanya di ekosistem tersebut.
Selanjutnya peserta diajak untuk belajar berkolaborasi dengan aktivitas yang telah disediakan. Peserta diajak untuk mengeksplorasi keragaman jejaring dengan kegiatan kelompok. Dalam kelompok, peserta diminta untuk dapat saling berkenalan dan berhubungan satu sama lain sehingga membuat jejaring. Setelah itu, peserta diminta untuk menuliskan inisiatif yang ingin dilakukan dalam sebuah kertas. Lalu, peserta diminta untuk berbagi satu dengan yang lain tentang inisiatif tersebut dan menemukan solusi untuk dapat melaksanakannya.
Dengan kegiatan ini, peserta diharapkan dapat membuat jejaring koneksi dan menganalisa sumber daya yang kita miliki. Dengan jejaring dan sumber daya yang dimiliki tersebut, peserta dapat melaksanakan suatu inisiatif untuk menyelesaikan permasalahan tertentu. Fanny, salah satu peserta Jelajah Kolaboraya dari Solo mengatakan bahwa dengan kegiatan seperti ini, dia dapat bertemu dengan individu dan komunitas yang ternyata menghadapi isu yang sama. Pertemuan ini memberikan pengetahuan dan ilmu baru serta kesempatan untuk dapat berkolaborasi menciptakan suatu solusi terhadap isu tersebut. Fanny berharap bahwa kegiatan Kolaboraya ini akan terus ada dan melibatkan lebih banyak orang maupun komunitas agar bisa menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan kolaboratif. [jonathan]



