
UKDW dan UAJY Gelar Doa Ekumenis Indonesia 2026, Rajut Persahabatan Inklusif
Campus Ministry (CM) Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) berkolaborasi dengan CM Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) menggelar Doa Ekumenis Indonesia (DEI) 2026 pada Jumat, 6 Maret 2026 di Basement Kampus II Gedung St. Thomas Aquinas UAJY. Kegiatan ini mengusung tema “Satu Cakrawala, Satu Tatapan” yang terinspirasi dari Injil Yohanes 15:11–17.
Tema tersebut mengajak sivitas akademika kedua kampus melampaui sekat denominasi dan membangun persahabatan yang inklusif. Rangkaian kegiatan diawali dengan workshop sharing inklusif, kemudian dilanjutkan doa bersama yang diiringi nyanyian Taizé bernuansa meditatif.
Ibadah dipimpin secara kolaboratif oleh Romo Markus Nur Widipranoto, Pr. dari CM UAJY dan Pendeta Nani Minarni, S.Si., M.Hum. dari CM UKDW. Dalam refleksinya, Romo Markus mengutip pesan Frère Matthew, Prior Komunitas Taizé, tentang tujuh hal yang dicari manusia modern, yakni keheningan, arah hidup, sukacita, makna hidup, keadilan, komunitas, dan perdamaian.
“Damai adalah hal mendasar yang kerap dilupakan. Karena itu, kita perlu belajar mendengarkan dari berbagai sisi untuk membangun persahabatan inklusif,” ujarnya di hadapan mahasiswa, dosen, staf, serta peserta umum yang hadir.
DEI 2026 juga dihadiri peserta dari berbagai latar belakang. Selain sivitas akademika UKDW dan UAJY, kegiatan ini diikuti mahasiswa Universitas Sanata Dharma (USD), seorang mahasiswa doktoral antropologi asal Jepang yang sedang menempuh studi di USD, serta dosen dari UPN Veteran Yogyakarta. Hadir pula seorang suster dari Kongregasi FCJ dan warga Keuskupan Malang yang sedang berada di Yogyakarta untuk menjalani pengobatan.
Selanjutnya, para peserta bergabung dalam kelompok kecil untuk berbagi pengalaman iman dan refleksi. Diskusi kelompok mengacu pada Surat Taizé 2026 yang menyoroti tema “mencari keadilan”, yang dinilai relevan dengan situasi dunia yang tengah menghadapi berbagai konflik.
Melalui diskusi tersebut, peserta diajak tidak hanya menjadi penonton sejarah, tetapi juga berkontribusi membangun jembatan perdamaian. Salah satu peserta menyampaikan bahwa mahasiswa dapat memulai langkah sederhana dengan menyediakan waktu dan ruang untuk mendengarkan serta memahami sesama.
Dalam kegiatan ini, UKDW juga berkontribusi melalui tim paduan suara yang membawakan nyanyian Taizé. Selain itu, pembacaan Injil dilakukan dalam berbagai bahasa daerah sebagai simbol keberagaman budaya Indonesia yang dipersatukan dalam iman.
Pendeta Nani Minarni menekankan pentingnya kerendahan hati untuk berjalan bersama. Menurutnya, persahabatan inklusif berarti saling menghormati serta menerima keterbatasan diri dan sesama. “Persahabatan inklusif bukan sekadar berkumpul, tetapi upaya merajut kembali perpecahan dalam terang Kristus,” ujarnya.
Melalui DEI 2026, UKDW dan UAJY menunjukkan komitmen untuk terus memperkuat semangat ekumenisme di Yogyakarta. Kolaborasi Campus Ministry kedua universitas ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan doa, tetapi juga berlanjut dalam berbagai aksi sosial dan intelektual di masa mendatang. [LPKKSK/Adham]





