
Darurat Miopia pada Anak: “Warisan” Pandemi yang Bisa Dicegah
Yogyakarta – Pandemi COVID-19 memang telah berlalu, namun jejaknya masih terasa dalam berbagai aspek kesehatan. Salah satunya yang mulai mencemaskan para orang tua, guru, dan tenaga medis adalah lonjakan kasus gangguan refraksi pada anak usia sekolah. Menurut World Health Organization (WHO, 2023), jumlah penderita gangguan refraksi meningkat secara global dengan proyeksi setengah populasi dunia akan mengalaminya pada tahun 2050. Di Indonesia, data dari studi yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2013 menemukan 26% anak usia sekolah dasar mengalami gangguan refraksi mata. Namun pada data terbaru di tahun 2023 prevalensi kelainan refraksi meningkat drastis hingga mencapai 40%.
Miopia adalah salah satu gangguan refraksi paling umum pada anak usia sekolah, ditandai dengan pandangan kabur ketika melihat objek yang jauh. Penyebab miopia pada anak bersifat kompleks, namun perubahan gaya hidup menjadi salah satu pemicu utamanya. Meningkatnya waktu menatap layar gawai dan berkurangnya aktivitas di luar ruangan membuat mata bekerja lebih keras dari sebelumnya. Saat sekolah daring menjadi kebiasaan baru, anak-anak menghabiskan berjam-jam di depan layar, baik untuk belajar maupun berinteraksi, menggantikan permainan dan aktivitas fisik di luar kelas. Durasi pandangan dekat yang panjang, minimnya paparan cahaya alami, serta kurangnya gerak tubuh berpadu meningkatkan risiko miopia secara signifikan.
Dari sudut pandang anatomi, miopia terjadi ketika bola mata memanjang secara berlebihan, sehingga cahaya jatuh di depan retina, bukan tepat pada retina. Hasilnya, objek jauh terlihat buram. Pada anak, proses ini sering dipicu oleh kebiasaan memfokuskan mata pada jarak dekat terlalu lama, tanpa jeda yang cukup untuk relaksasi otot-otot siliaris mata. Saat membaca dekat, mata akan terus-menerus berakomodasi (lensa menebal) dan otot siliaris tegang. Rangsangan dekat yang berkepanjangan membuat sistem fokus mata “terbiasa” dalam mode akomodasi. Pada jangka panjang (bulan–tahun) akan muncul pemanjangan aksis bola mata sebagai adaptasi permanen.
Di sinilah peran ergonomi menjadi sangat penting. Ergonomi visual tidak hanya bicara tentang kursi dan meja, tetapi juga mencakup jarak pandang, pencahayaan, ukuran teks, hingga durasi penggunaan layar. Posisi membaca ideal adalah jarak mata ke buku atau layar sekitar 30–40 cm, dengan pencahayaan cukup dan tanpa silau. Layar komputer sebaiknya sejajar atau sedikit di bawah tinggi mata untuk mengurangi ketegangan.
Sayangnya, selama pandemi tak sedikit anak yang belajar dalam posisi serba terbatas—tengkurap di kasur, duduk di lantai dengan gawai di pangkuan, atau di kursi tanpa sandaran. Hari demi hari, jarak pandang yang terlalu dekat dan punggung yang terus membungkuk perlahan membebani mata mereka, sekaligus meninggalkan jejak pada tulang punggung yang akan mereka bawa hingga dewasa.
Studi menunjukkan, anak yang jarang bermain di luar ruangan memiliki risiko miopia lebih tinggi. Cahaya alami membantu memperlambat pertambahan panjang bola mata. Oleh karena itu, dengan mendorong siswa untuk beraktivitas di luar kelas setidaknya 1–2 jam per hari merupakan strategi pencegahan yang sederhana namun efektif.
Selain itu, prinsip “20-20-20” patut diperkenalkan di sekolah: setiap 20 menit menatap dekat, alihkan pandangan sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik. Kebiasaan ini memberi kesempatan otot mata untuk beristirahat, sehingga mengurangi risiko mata lelah.
Peran sekolah sangat krusial dalam menyediakan meja dan kursi sesuai dengan tinggi badan siswa, mengatur pencahayaan ruang kelas, dan mengedukasi guru untuk memberi jeda aktivitas visual jarak dekat. Bagi orang tua, menyiapkan sudut belajar yang nyaman dan ramah bagi tubuh anak, serta bijak membatasi waktu menatap gawai di luar jam belajar, adalah wujud cinta yang sederhana namun berdampak besar bagi masa depan penglihatan mereka.
Era pasca pandemi adalah momentum emas untuk menata ulang kebiasaan visual anak. .Miopia bukan sekadar masalah kacamata namun tantangan kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian serius. Dengan intervensi yang tepat, generasi muda Indonesia dapat tumbuh dengan penglihatan sehat dan masa depan lebih cerah.
Oleh: dr. Lenggana Relung Atmadi, M.Biomed
Telah terbit di media cetak Kedaulatan Rakyat, pada tanggal 31 Agustus 2025


