
Kolaborasi COIL UKDW dan MMSU Filipina Perkuat Kompetensi Global Mahasiswa PBI
Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) memperkuat kiprahnya di tingkat internasional melalui program Collaborative Online International Learning (COIL) bersama The Mariano Marcos State University-College of Teacher Education dari Filipina. Program kolaboratif ini mempertemukan mahasiswa dari dua negara dalam pembelajaran lintas budaya yang inovatif, efisien, dan relevan dengan tuntutan pendidikan global.
Program COIL berlangsung selama enam minggu, dari Februari hingga April 2026, dan melibatkan dua mata kuliah, yaitu Language Teaching Methodology yang diampu oleh Dr. Paulus Widiatmoko, M.A., serta Public Speaking oleh Arida Susyetina, M.A. Dari pihak MMSU, kolaborasi ini melibatkan Dr. Jay Ar Cristobal dan Dr. Mayrose F. Bruno Velasques.
Dalam pelaksanaannya, dosen menerapkan model blended online learning yang memadukan sesi sinkron dan asinkron. Mahasiswa mengikuti dua sesi daring secara langsung yang dipandu dosen dari masing-masing universitas, kemudian melanjutkan tiga sesi kerja kelompok secara mandiri dalam tim yang terdiri atas mahasiswa UKDW dan MMSU. Program ini ditutup dengan pertemuan daring berupa eksibisi virtual dan presentasi proyek.
Sebanyak 60 mahasiswa dari kedua universitas terlibat dalam mata kuliah Language Teaching Methodology. Mereka merancang proyek pembelajaran berbasis Communicative Language Teaching (CLT) dengan mengangkat konten budaya lokal dari Indonesia dan Filipina. Mahasiswa UKDW, misalnya, mengembangkan materi pembelajaran Bahasa Inggris bertema kuliner khas Yogyakarta seperti gudeg serta destinasi bersejarah. Sementara itu, mahasiswa MMSU mengangkat kekayaan budaya lokal Filipina dalam proyek mereka.
Dalam prosesnya, mahasiswa bekerja dalam tim internasional, di mana setiap mahasiswa UKDW berkolaborasi dengan empat hingga lima mahasiswa dari MMSU. Arida Susyetina dan Mayrose Bruno membimbing 55 mahasiswa dalam menavigasi dinamika kerja tim virtual lintas negara.
Paulus Widiatmoko menjelaskan pendekatan ini memberi ruang bagi mahasiswa untuk tidak hanya memahami teori pengajaran bahasa, tetapi juga mengaitkannya dengan realitas budaya yang autentik. “Mahasiswa belajar bahwa bahasa tidak dapat dipisahkan dari budaya. Ketika mereka merancang materi ajar berbasis budaya lokal, mereka sekaligus membangun sensitivitas lintas budaya dan kompetensi pedagogik global,” ujarnya.
Sementara itu, Arida Susyetina menyoroti aspek pengembangan karakter mahasiswa selama program berlangsung. Program ini menumbuhkan adaptability saat ada kendala teknis dengan menciptakan sistem kerja asinkronus yang tetap efektif di antara enam pertemuan sinkronus mereka. “Yang paling bermakna, mereka mengembangkan sikap considerate—memahami bahwa di balik layar komputer, rekan mereka mungkin sedang berjuang dengan koneksi yang lemah atau kondisi yang tidak ideal. Artinya, kolaborasi internasional sejati bukan sekadar berbagi ide, tetapi juga tentang menghadapi dan mengatasi tantangan nyata bersama-sama,” terangnya.
Evaluasi program menunjukkan respons yang sangat positif dari mahasiswa. Salah satu peserta menyampaikan bahwa pengalaman bekerja sama dengan mahasiswa internasional membuka perspektif baru dalam pembelajaran. “Presentasi akhir menjadi momen paling berkesan karena kami bisa melihat berbagai pendekatan kreatif dalam mengajar,” ungkapnya.
Baik dosen maupun mahasiswa sepakat bahwa tantangan teknis dan logistik yang dihadapi selama program justru memperkuat kerja sama tim dan menumbuhkan empati. Pengalaman ini dinilai tidak hanya meningkatkan kompetensi akademik, tetapi juga keterampilan sosial yang penting di era global.
Melalui program ini, PBI UKDW menegaskan komitmennya dalam membangun jejaring internasional melalui kolaborasi akademik yang adaptif. COIL menjadi bukti bahwa internasionalisasi pendidikan tinggi dapat dilakukan secara kreatif tanpa terhalang jarak, waktu, dan biaya. Selain itu, mahasiswa dari kedua universitas menunjukkan ketangguhan dalam membangun kolaborasi lintas negara di tengah berbagai keterbatasan. Pengalaman ini sekaligus membentuk keterampilan esensial yang perlu dimiliki oleh pendidik di era global.
Ke depan, UKDW dan MMSU berencana memperluas kerja sama melalui program pertukaran kuliah pakar. Dosen dari kedua institusi akan saling berbagi keahlian dalam forum akademik lintas negara. Program ini sekaligus memperkuat peran PBI UKDW dalam mencetak calon guru bahasa Inggris yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap menjadi warga global. Memiliki kemampuan komunikasi yang baik, kepekaan budaya, serta kemampuan membangun jejaring internasional. [PBI/AR-MK]





